Selamatkan Fauna Indonesia…!

Kulakukan demi keturunanku…

Tentunya semua orang telah mengetahui bahwa beragam jenis amfibi mengalami proses metamorfosa dalam perkembangbiakannya. Mereka menghasilkan telur, beberapa saat kemudian telur tersebut menetas menjadi larva dan pada akhirnya menjadi individu muda. Namun pernahkah kita bertanya “ Bagaimana seekor induk menjaga telurnya sebelum menetas menjadi berudu ?”
Katak ataupun kodok mengembangkan strategi bervariasi untuk melindungi telurnya. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup pada setiap jenis katak. Strategi penyimpanan telur biasanya dipengaruhi oleh warna telur. Umumnya telur katak yang sering dijumpai berwarna putih dan hitam. Telur-telur tersebut biasanya mengapung dipermukaan air yang bervegetasi cukup terbuka. Bagian telur yang berwarna hitam terletak diatas permukaan air sedangkan bagian bawah telur berwarna putih. Kombinasi warna tersebut diharapkan dapat mengelabuhi predator yang datang baik dari dasar perairan maupun dari atas permukaan air. Katak yang telurnya berwarna demikian umumnya pada suku Ranidae dan pada genus Leptobrachium. Adapula telur-telur katak yang hanya berwarna putih. Telur dengan warna demikaian biasanya disimpan ditempat-tempat tersembunyi seperti diantara bebatuan, tumpukan serasah di dasar sungai atau dengan busa yang tebal. Umumnya dijumpai pada katak dari marga (genus) Megophrys, Limnonectes dan Philautus dan Rhacophorus.
Bila ditelaah kembali keterangan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya katak akan meninggalkan telurnya setelah proses fertilisasi telah dilakukan. Kebanyakan dari mereka lebih mengandalkan alam serta sedikit keberuntungan untuk mempertahankan jenisnya. Pertanyaan selanjutnya adalah “adakah diantara jenis-jenis katak yang menjaga dan merawat telur-telurnya hingga menetas menjadi larva ?”
Limnonectes modestus adalah satu diantara beberapa jenis katak di Indonesia yang diketahui menjaga dan merawat telurnya hingga menetas menjadi berudu. Jenis katak ini ditemukan di Pulau Sulawesi yang ditemkan di hutan-hutan dataran rendah. Pada saat akan melakukan fertilisasi, sang jantan akan memanggil betina, dan selang beberapa saat betina datang dan mengunjungi tempat-tempat yang dianggap cocok untuk meletakkan telurnya. Sedangkan jantan bertugas untuk membuahi bagi betina yang telah siap dibuahi. Setelah proses fertilisasi dilakukan, maka mereka meletakkan telurnya di dedaunan rendah atau di bebatuan berlumut yang disekitarnya terdapat kolam atau aliran air yang lamban. Pada daun yang sama biasanya ditemukan satu sampai dua sarang yang memiliki kelas umur yang berbeda. Lantas, “siapakah yang menjaga telu-telur tersebut ?“ ternyata tugas mulia ini diemban oleh sang jantan yang dilakukan selama siang maupun malam hari. Setelah beberapa saat telur tersebut akan menetas dan menjadi larva. Larva-larva tersebut akan langsung jatuh ke air dan dimulailah proses hidup tanpa penjagaan dari sang induk.
Sama halnya dengan L. modestus, katak dari jenis L. finchi dan L. palavensis juga menjaga dan merawat telurnya. Kedua jenis katak ini ditemukan di pulau Kalimantan pada hutan-hutan dataran rendah sampai pada ketinggian 1300 mdpl. Berbeda dengan L. modestus, kedua jenis katak ini lebih menyukai serasah-serasah yang lembab sebagai tempat bernaung telur-telurnya. Sebelum melakukan fertilisasi, biasanya jantan soliter yang berada disekitar serasah-serasah memanggil betina. Setelah merasa cocok dengan panggilan jantan, maka sang betina mendatangi sang jantan untuk melakukan fertilisasi. Setelah proses tersebut selesai maka sang betina meninggalkan telurnya kepada sang jantan. Setelah beberapa saat kemudian, telurnya akan menetas menjadi larva. Disinilah keunikan terjadi kembali, karena tugas sang jantan bertambah lagi. Selain menjaga telurnya, sang jantan harus mengantarkan larva-larva tersebut ke kolam-kolam dangkal atau aliran-aliran air yang tenang. “Bagaimana cara sang jantan mengantarkan larva tersebut ?” Untuk membawa larvanya ke sumber air, sang jantan meletakkan larva tersebut ke pundaknya atau dengan kata lain sang jantan menggendong larva tersebut sampai menuju sumber air yang layak bagi perkembangan anak-anaknya.
Proses unik ini adalah satu diantara sekian banyak keragaman dalam proses perkembangbiakan pada amfibi. Tidak tertutup kemungkinan bahwa tipe perkembangbiakan unik lainnya ditemukan kembali. Hal ini cukup beralasan karena ragam bioekologi pada setiap jenis amfibi khususnya proses perkembangbiakan masih jarang dipelajari. (Ucok)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.