Foto-foto kegiatan saat di TN Ujung Kulon tahun 2008. Foto pada kegiatan Ekspedisi Global UKF 2008 sebagai diklat akhir anggota baru UKF angkatan V. Foto dibuat semenarik mungkin agar kenangan-kenangan masa lalu yang begitu indah bisa teringat kembali. Mohon maaf jika ada foto rekan-rekan yang termuat menjadi komik di foto-foto ini. Selamat menikmati. Salam Fauna!!!
Komik
GLOBAL WARMING : diantara Hand Made atau Faktor Alam?
Perubahan iklim global selalu menjadi pembicaraan hangat di dunia. Hal ini merupakan suatu masalah yang sangat serius karena memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan di dunia. Salah satu penyebab perubahan iklim adalah Pemanasan Global (Global Warming).
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Salah satu penyebab utama dari pemanasan global ini adalah Greenhouse Effect (Efek Rumah Kaca). Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer.
Sebagian besar para ahli berpendapat bahwa kegiatan manusialah yang menjadi penyebab utama meningkatnya pemanasan global. Kegiatan-kegiatan manusia seperti pembakaran minyak bumi, batu bara, dan gas alam serta pembukaan lahan dengan cara membakar hutan membuat konsentrasi gas CO2 di atmosfer meningkat sehingga terjadi pemanasan global.
Pemanasan global merupakan kerusakan lingkungan yang terparah yang disebabkan oleh kegiatan manusia. Tapi apakah benar bahwa manusia merupakan faktor utama penyebab pemanasan global?
Dalam Buku Unstoppable ’Every 1,500 Years’ Global Warming dinyatakan bahwa pemanasan global merupakan suatu fenomena alam biasa yang terjadi setiap 1.500 tahun. Sang Pengarang,S. Fred Singer dan dennis T. Avery, mengatakan bahwa periode panas seperti terjadi sekarang adalah bukan satu masa terpanas karena ribuan tahun lalu kondisi lebih parah sudah berulang kali terjadi, malah saat itu dunia belum mengenal emisi gas CO2. Pendapat mereka ini di perkuat dengan asumsi dari para pakar klimatologi dan pakar geologi yang menyatakan bahwa pada jutaan tahun terakhir ini telah terjadi 600 periode panas dan 599 periode dingin yang datang silih berganti setiap 1.50 tahun.
Dari pendapat para ilmuwan dan aktivis lingkungan hidup dari bidang-bidang yang terkait dengan pemanasan global, kenaikan suhu bumi saat ini tidaklah terlalu aneh karena sejak ribuan tahun yang lalu suhu bumi selalu naik-turun. Kenaikan suhu bumi akibat bertambahnya gas rumah kaca, khususnya gas CO2, hasil dari kegiatan manusia tidaklah sepenuhnya benar. Karena selain dari kegiatan manusia, bertambahnya gas CO2 juga disebabkan karena suhu bumi yang naik. Kenaikan suhu bumi disebabkan karena meningkatnya aktivitas matahari sebagai sumber energi bumi. Beberapa data menunjukan bahwa perubahan-perubahan aktivitas matahari dalam beberapa ratus tahun terakhir berbanding lurus dengan perubahan suhu bumi. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa Matahari berkontribusi terhadap peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900 – 2000. Bahkan ada seorang profesor dari rusia yang mengatakan bahwa peningkatan suhu bumi bukan akibat greenhouse effect, melainkan akibat ledakan yang terjadi di matahari.
Sesuai dengan pendapat para ahli, dapat di simpulkan bahwa pemanasan global bukan akibat dari kegiatan manusia saja tetapi juga karena ada faktor alam lain yang berpengaruh terhadap terjadinya fenomena alam ini. Tapi terlepas dari semua itu, kita sebagai manusia yang menempati bumi ini sudah seharusnya sadar akan masalah ini. Kita harus berupaya serta berusaha untuk mencegah pemanasan global ini agar tidak terus berlangsung sehingga kelestarian alam di bumi ini dapat tetap terjaga dan kelangsungan hidup semua makhluk di bumi ini dapat berjalan baik. (aG)
Tentunya semua orang telah mengetahui bahwa beragam jenis amfibi mengalami proses metamorfosa dalam perkembangbiakannya. Mereka menghasilkan telur, beberapa saat kemudian telur tersebut menetas menjadi larva dan pada akhirnya menjadi individu muda. Namun pernahkah kita bertanya “ Bagaimana seekor induk menjaga telurnya sebelum menetas menjadi berudu ?”
Katak ataupun kodok mengembangkan strategi bervariasi untuk melindungi telurnya. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup pada setiap jenis katak. Strategi penyimpanan telur biasanya dipengaruhi oleh warna telur. Umumnya telur katak yang sering dijumpai berwarna putih dan hitam. Telur-telur tersebut biasanya mengapung dipermukaan air yang bervegetasi cukup terbuka. Bagian telur yang berwarna hitam terletak diatas permukaan air sedangkan bagian bawah telur berwarna putih. Kombinasi warna tersebut diharapkan dapat mengelabuhi predator yang datang baik dari dasar perairan maupun dari atas permukaan air. Katak yang telurnya berwarna demikian umumnya pada suku Ranidae dan pada genus Leptobrachium. Adapula telur-telur katak yang hanya berwarna putih. Telur dengan warna demikaian biasanya disimpan ditempat-tempat tersembunyi seperti diantara bebatuan, tumpukan serasah di dasar sungai atau dengan busa yang tebal. Umumnya dijumpai pada katak dari marga (genus) Megophrys, Limnonectes dan Philautus dan Rhacophorus.
Bila ditelaah kembali keterangan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya katak akan meninggalkan telurnya setelah proses fertilisasi telah dilakukan. Kebanyakan dari mereka lebih mengandalkan alam serta sedikit keberuntungan untuk mempertahankan jenisnya. Pertanyaan selanjutnya adalah “adakah diantara jenis-jenis katak yang menjaga dan merawat telur-telurnya hingga menetas menjadi larva ?”
Limnonectes modestus adalah satu diantara beberapa jenis katak di Indonesia yang diketahui menjaga dan merawat telurnya hingga menetas menjadi berudu. Jenis katak ini ditemukan di Pulau Sulawesi yang ditemkan di hutan-hutan dataran rendah. Pada saat akan melakukan fertilisasi, sang jantan akan memanggil betina, dan selang beberapa saat betina datang dan mengunjungi tempat-tempat yang dianggap cocok untuk meletakkan telurnya. Sedangkan jantan bertugas untuk membuahi bagi betina yang telah siap dibuahi. Setelah proses fertilisasi dilakukan, maka mereka meletakkan telurnya di dedaunan rendah atau di bebatuan berlumut yang disekitarnya terdapat kolam atau aliran air yang lamban. Pada daun yang sama biasanya ditemukan satu sampai dua sarang yang memiliki kelas umur yang berbeda. Lantas, “siapakah yang menjaga telu-telur tersebut ?“ ternyata tugas mulia ini diemban oleh sang jantan yang dilakukan selama siang maupun malam hari. Setelah beberapa saat telur tersebut akan menetas dan menjadi larva. Larva-larva tersebut akan langsung jatuh ke air dan dimulailah proses hidup tanpa penjagaan dari sang induk.
Sama halnya dengan L. modestus, katak dari jenis L. finchi dan L. palavensis juga menjaga dan merawat telurnya. Kedua jenis katak ini ditemukan di pulau Kalimantan pada hutan-hutan dataran rendah sampai pada ketinggian 1300 mdpl. Berbeda dengan L. modestus, kedua jenis katak ini lebih menyukai serasah-serasah yang lembab sebagai tempat bernaung telur-telurnya. Sebelum melakukan fertilisasi, biasanya jantan soliter yang berada disekitar serasah-serasah memanggil betina. Setelah merasa cocok dengan panggilan jantan, maka sang betina mendatangi sang jantan untuk melakukan fertilisasi. Setelah proses tersebut selesai maka sang betina meninggalkan telurnya kepada sang jantan. Setelah beberapa saat kemudian, telurnya akan menetas menjadi larva. Disinilah keunikan terjadi kembali, karena tugas sang jantan bertambah lagi. Selain menjaga telurnya, sang jantan harus mengantarkan larva-larva tersebut ke kolam-kolam dangkal atau aliran-aliran air yang tenang. “Bagaimana cara sang jantan mengantarkan larva tersebut ?” Untuk membawa larvanya ke sumber air, sang jantan meletakkan larva tersebut ke pundaknya atau dengan kata lain sang jantan menggendong larva tersebut sampai menuju sumber air yang layak bagi perkembangan anak-anaknya.
Proses unik ini adalah satu diantara sekian banyak keragaman dalam proses perkembangbiakan pada amfibi. Tidak tertutup kemungkinan bahwa tipe perkembangbiakan unik lainnya ditemukan kembali. Hal ini cukup beralasan karena ragam bioekologi pada setiap jenis amfibi khususnya proses perkembangbiakan masih jarang dipelajari. (Ucok)
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) merupakan satwa karnivora yang saat ini sudah menjadi satwa yang sangat langka di pulau jawa. Satwaliar ini merupakan satwa top predator yang mengendalikan populasi hewan dalam siklus rantai makanan. Populasinya yang kian berkurang disebabkan oleh banyak faktor yang sebagian besar dilakukan oleh tangan manusia. Kini keneradaannya tinggal puluhan ekor dan tersebar di beberapa taman nasional dipulau jawa. Selain karena perusakan habitat, perburuan juga menjadi musuh utama keberadaan dari satwa ini.
Dengan latar belakan seperti itulah, kami dari Divisi Konservasi Karnivora mengadakan kegiatan Monitoring Macan Tutul Jawa. kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan distribusi dari macan tutul jawa serta karakteristik habitatnya.kegiatan ini dilaksanakan di Resort Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 8 – 9 Mei 2009. Kegiatan kali ini merupakan kegiatan tahun kedua. jadi kegiata ini sudah menjadi kegiatan yang rutin dilakukan oleh kami.
Kegiatan yang dilakukan oleh tim adalah pengamatan dengan metode jalur dan analisis vegetasi. Pengamatan dilakukan pada tiga jalur yaitu cikaweni, Cipadaranten dan afrika. Ketiga jalur ini merupakan jalur yang biasa dilewati oleh macan tutul jawa. Pengamatan dilakukan pada pagi hari dan sore hari, dan analisis vegetasi dilakukan dua kalu pada siang hari. Data yang di ambil adalah data keberadaan Macan tutul jawa baik langsung maupun tidak langsung, satwa mangsa, juga keadaan habitat yang adadi Resort Bodogol ini. Pengamatan dilakukan 3 kali yaitu pagi hari kedua, sore hari kedua dan pagi hari ketiga. Data yang didapat diolah selanjutnya untuk dikembalikan kepada pihak Taman Nasional sendiri untuk database. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim Divisi Konservasi Karnivora berjumlah 13 orang dan dibagi menjadi lima kelompok.
Esensi dari kegiatan ini merupakan wujud pengabdian kami terhadap keberadaan Macan tutul jawa di habitatnya yang kian berkurang. Kita memang sering mendengar adanya konflik masyarakat dengan satwa liar yang ada di suatu daerah di Sumatera. Semoga keberadaan Macan tutul di Jawa tidak mengalami nasib hal serupa seperti “saudara” dekatnya yaitu Harimau sumatera. Walaupun kita belum mendengar adanya konflik warga sekitar Taman Nasional dengan Macan tutul jawa. Serta kita juga tidak ingin keberadaannya mengalami nasib serupa dengan Harimau jawa dan Harimau bali.(Ciripa)
Indonesia dikenal sebagai Negara kepulauan dengan sumber daya alam hayati perairannya yang luar biasa besar. Ironisnya, potensi yang sedemikian besarnya belum dapat dikelola secara optimal. Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKS) adalah salah satu kawasan konservasi yang memiliki potensi tersebut. Banyak di antara tempat-tempat di kawasan tersebut yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang tinggi. Dari segi ekologis, keanekaragaman hayati berperan besar bagi ekosistem perairan. Sedangkan dari segi ekonomi, penduduk sekitar menggantungkan hidupnya dari kegiatan di perairan tersebut.
Pemanfaatan sumber daya alam hayati perairan yang dilakukan di TNLKS masih harus ditingkatkan dengan upaya konservasi yang sesuai. Namun demikian, sebelumnya perlu dilakukan pemberitahuan mengenai keadaan ekosistem perairan di kawasan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat sekitar turut serta dalam upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan terhadap sumber daya alam perairan di wilayah mereka.
Hal di atas tersebutlah yang melatarbelakangi UKM Uni Konservasi Fauna IPB untuk melakukan pengambilan data dan memberikan pendidikan konservasi pada pulau-pulau yang berpenghuni di TNLKS. Kegiatan berlangsung selama empat hari. Kegiatan untuk tiga hari pertama difokuskan dalam pengambilan data mengenai struktur komunitas (lamun, terumbu karang, benthos, dan ikan) di Pulau Karya. Sedangkan hari terakhir, kegiatan ditutup dengan acara pendidikan konservasi di Sekolah Dasar Negeri 02 Pagi Pulau Panggang yang berlokasi di Pulau Pramuka.
Kegiatan ini diikuti oleh angkatan II sampai dengan angkatan IV UKF yang berjumlah sembilan orang. Banyak kendala yang dihadapi pada kegiatan ini, baik mulai persiapannya sampai saat pelaksanaannya. Beberapa kali pula konsep kegiatan berubah sampai dengan pelaksanaannya. Kebersamaan, kekompakan, dan rasa kekeluargaan yang tinggi merupakan kunci suksesnya kegiatan ini. Semua pelaksana kegiatan saling membantu satu sama lainnya. Berbagai permasalahan disikapi dengan kepala dingin dan pemikiran yang membangun. Segala emosi di lapangan hilang begitu saja seiring dengan munculnya rasa kekeluargaan yang tinggi. Banyak pesan moral yang dapat kita ambil dari kegiatan ini. Tujuan dari semua kegiatan ini adalah penerapan konservasi yang nyata sehingga perlu kerjasama yang baik dalam pelaksanaannya. Oleh karena itulah dibutuhkan rasa saling percaya sehingga dapat menumbuhkan kebersamaan yang erat, dan pada akhirnya membangun rasa kekeluargaan yang tinggi untuk bersama dalam melaksanakan konservasi. (Tim Pulo)